Sirkulasi Kandang dan amoniak

Seperti kita ketahui bahwa di Indonesia beriklim tropis dimana pada iklim Tropis Suhu dan kelembaban relatif tinggi alias Panas, oleh karena itu segala bentuk inovasi ventilasi sangat diperlukan untuk menjaga kelancaran sirkulasi udara dikandang. Adapun beberapa manfaat dari sirkulasi kandang yang baik adalah :

  1. Tercukupinya kebutuhan oksigen untuk ternak puyuh kita
  2. Dapat menurunkan suhu kandang
  3. Dapat mengontrol kelembaban kandang dimana kelembaban standar pada 60%
  4. Dapat meminimalisir kandungan gas-gas beracun seperti amoniak, CO2 dan metana
  5. Meminimalisir cekaman stress panas pada ternak puyuh

Bau menyengat dikandang bersumber dari gas amonia (NH3) yang dihasilkan kotoran puyuh. Walaupun dari kotoran puyuh bisa terurai menjadi gas beracun lain seperti H2S, CO2, dan metana, namun di antara gas beracun tersebut yang paling banyak menimbulkan masalah bagi kesehatan dan produktivitas puyuh, serta lingkungan adalah amonia. Adapun proses terbentuknya amonia adalah sebagai berikut; nitrogen dalam metabolisme protein makhluk hidup diekskresikan ke luar tubuh dalam dua bentuk senyawa kimia, yaitu urea atau asam urat. Jika masih berbentuk asam urat, nitrogen akan didekomposisi (diubah bentuknya) terlebih dahulu menjadi senyawa urea oleh bakteri ureolitik di lingkungan. Adanya kelembaban yang tinggi dan suhu yang relatif rendahlah yang akan membuat urea-urea yang mengandung nitrogen tadi akhirnya terurai menjadi gas amonia dan CO2. Selain faktor suhu dan kelembaban, menurut Setiawan (1993) ada faktor lain yang turut serta meningkatkan akumulasi gas amonia, di antaranya akibat sirkulasi udara dalam kandang yang tidak lancar serta populasi yang terlalu padat. Adapun kerugian yang ditimbulkan akibat dari tingginya amoniak dikandang adalah :

  1. Gas amonia bersama dengan gas CO2 yang terbentuk akan mengakibatkan tekanan gas O2 dalam udara sekitar ayam menurun, sehingga ayam mengalami kekurangan oksigen (hipoksia).
  2. Tingginya produksi gas amonia yang berasal dari kotoran menyebabkan proses pencernaan nutrisi di dalam tubuh puyuh kurang optimal feed intake berlebih, karena tidak semua nitrogen diserap sebagai asam amino, tetapi dikeluarkan sebagai asam urat lewat kotoran (Pauzenga, 1991).
  3. Menurut Summers (1993), gas amonia dengan kadar > 30 ppm dapat mengakibatkan kondisi alkalosis (pH cairan tubuh, termasuk cairan plasma darah bersifat basa) pada ayam. Jika plasma darah bersifat basa, maka sebagian besar protein plasma akan mengikat ion kalsium darah (yang sebelumnya berupa ion bebas yang akan disimpan dalam jaringan tulang dan saluran telur (oviduct)). Akibatnya, pembentukan tulang/kerangka tubuh akan terganggu dan kerabang telur yang dihasilkan menjadi lebih tipis.
  4. Timbul gangguan pembentukan kekebalan tubuh, baik yang bersifat lokal maupun humoral. Kekebalan lokal (IgA) yang terdapat dalam saluran pernapasan atas, produksinya akan mengalami gangguan akibat rusaknya sel-sel epitel oleh iritasi amonia. Sedangkan kadar amonia yang tinggi dalam darah (akibat terhisap dalam jumlah besar) menyebabkan stres pada sel-sel limfosit sehingga produksi antibodi (IgG dan IgM) juga mengalami gangguan (North, 1984).
Sales

Ingin konsultasi produk pakan yang sesuai untuk usaha peternakan Anda?
tim sales kami dengan senang hati akan memberikan solusi

Handoko
0811-2653-774
Whatsapp Telepon
Kontak Sales